Tampilkan postingan dengan label Mendadak Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mendadak Review. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Februari 2015

Misteri Tanda Cinta Para Utusan

Judul           : Seri Misteri Favorit 8 : 
                        Misteri Kerajaan Kuno
Penulis         : Yovita Siswati
Ilustrator      : Indra Bayu
Penerbit       : KIDDO
Cetakan       : Pertama, Januari 2015
Tebal            : vi+186 halaman


Bagja tak mengira, gara-gara kebaikan hatinya kepada seorang pengemis tua misterius, dia mendapat petualangan yang mendebarkan. Titik awal petualangan itu adalah tiga koin kuno pemberian si pengemis tua misterius.
Mira adalah pendatang baru di Banten Lama. Bersama orangtuanya, ia tinggal di rumah Kakek yang kuno. Ada baju zirah prajurit Eropa di rumah itu. Di situlah Mira menemukan dua koin kuno!
Semua serba pas. Mereka menemukan koin pada saat yang hampir bersamaan, ke museum pada saat bersamaan, lalu Mira yang menyelamatkan Bagja yang disekap di palka sebuah kapal tua di Karangantu dan sama-sama menyelidiki rahasia surat yang sudah berumur ratusan tahun. Surat yang menuju ke tempat harta karun itu berada. Harta karun tanda cinta dari negeri atas angin.
Namun, penyelidikan mereka tidak serta merta berjalan mulus. Sebab di belakang mereka ada Si Pipi Tarantula dan Si Ceking yang mengejar. Bukan itu saja, Teh Ican si mahasiswi sejarah, Pak Ali petugas perpustakaan, bahkan Mang Didu sopir keluarga Mira sendiri menunjukkan gelagat mengincar harta karun itu.
Berhasilkah mereka membongkar rahasia surat kuno itu? Lalu, siapakah penjahat yang sebenarnya? Kalian pasti terperangah hingga di halaman terakhir.
    Seraya ikut terbawa petualangan Bagja dan Mira yang mendebarkan, kalian seakan-akan ikut menyusuri lingkungan Kerajaan Banten Lama bersama mereka.

                                                                                                              
                                                                                                             By : Ganda Rudolf

Selasa, 09 September 2014

Every Mom can be a Writer

Foto milik Octaviani


Judul Buku : Momwriter's Diary
Penulis         : Dian Kristiani
Penerbit       : Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Cetakan       : Pertama, 2014
Tebal            : 142 halaman



Buku tips menulis yang paling bagus itu berangkat dari pengalaman seorang yang sudah sukses dengan karya-karyanya. Buku Momwriter's Diary merupakan salah satunya.
Seperti judulnya, buku ini adalah buah pengalaman dari Dian Kristiani yang juga adalah seorang ibu yang memiliki dua anak dan seorang penulis juga. Pas bila julukannya momwriter.

Senin, 25 Agustus 2014

Kisah Cinta Rasa Strawberry

Judul Buku   : The Strawberry Surprise
Penulis         : Desi Puspitasari
Penerbit       : Bentang Pustaka
Cetakan       : Pertama, Mei 2013
Tebal            : 276 halaman


Stroberi itu buah penuh kejutan. Rasanya kadang manis, kadang masam. Seperti memiliki kemungkinan yang tidak terduga. Contohnya dari semangkuk penuh stroberi. Ambil satu stroberi. Angkat dan perhatikan baik-baik. Daging buahnya merah, berbintik-bintik cerah. Coba gigit, lalu kunyah-kunyah. Bagaimana? Uh! Masam! Kecut sekali!
Sekarang ambil satu lagi stroberi yang lain. Kali ini ia terlihat biasa saja. Tidak terlalu merah. Berbintik-bintik menyedihkan. Bahkan, permukaan yang berada di dekat daun berwarna kuning, seolah terlalu banyak terkena sinar matahari. Sekarang coba gigit, kunyah, dan rasakan. Bagaimana? Ternyata…manis! Sangat manis! (Prolog)

Nah, novel ini adalah kisah tentang sang ‘stroberi kusam’, tidak menarik penampilannya namun ternyata sangat manis!

Minggu, 09 Maret 2014

Penyihir Antar Jemput & 9 Dongeng Seru Lainnya


Judul Buku : Penyihir Antar Jemput & 9 Dongeng Seru Lainnya
Penulis      : Dian Kristiani
Penerbit     : Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Tebal         : 104 halaman Full Colour 
Harga        : Rp. 75.000,-



Sulit membangkitkan semangat anak tercinta yang sedang putus asa, tidak percaya diri, kecewa karena keadaan tak sesuai dengan yang diinginkan, merasa tak berguna, takut melakukan kesalahan, dan sebagainya? Maka buku ini tepat sekali dipilih untuk diceritakan orangtua atau dibaca anak itu sendiri.
Penyihir Antar Jemput dan 9 Dongeng Seru Lainnya. Melalui buku ini, pendidikan budi pekerti menjadi masalah mudah di tangan dingin Dian Kristiani yang diramu lewat dongeng-dongengnya yang tak biasa alias penuh imajinasi.
Anak takut gagal? Dengan cerita “Negeri Serba Putih” anak mengerti bahwa kegagalan mungkin akan datang, tetapi bila berusaha sungguh-sungguh, keinginan itu dapat terwujud.
Si Pendek Tod. Dengan cerita ini anak tidak lagi minder dengan kekurangannya karena semua orang punya kelebihan. Akal dan kepintaran adalah salah satunya. Dan masih ada 8 dongeng lagi yang asyik dan seru-seru. Anak-anak pasti menyukainya.
Dengan ilustrasi-ilustrasinya yang tak menjemukan (metode menggambarnya ada yang berbentuk guratan-guratan crayon, bergaya animasi, ada juga cartoon), anak-anak merasa dimanjakan dengan gambar-gambar indah dan memikat yang full colour ini.
Bahkan bila orangtua sengaja mendongengkannya secara langsung, orang tua bisa membantu anak-anaknya memahami cerita dengan mudah hanya dengan menunjukkan gambar yang tepat. Karena tiap gambar memperjelas paragraf ceritanya. 
Di akhir cerita ada “Pesan Untukmu” yang merupakan ulasan ceritanya untuk sekadar mengingat kembali dan memotivasi sang anak. 
Itulah sebagian kelebihan dari buku ini disamping kekurangannya yaitu…Takkan lengkap tanpa 2 Seri Dongeng Budi Pekerti lainnya seperti yang ditampilkan pada foto cover di atas. Hehehe...

Kamis, 27 Februari 2014

Orang-Orang Tercinta

“Inspirasi ceritanya datang dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Pantangan dalam cerita anak---terutama menggurui---memaksa dia kreatif agar penyelamannya tersaji secara indah dan lebih tersaring. Supaya hanya sari makanan yang bernilai yang perlu untuk perkembangan jiwa anak.”




Demikianlah kata Pak Soekanto SA yang sebelumnya tidak yakin apakah cerita anak punya nilai sastra.
Orang-Orang Tercinta. Judul sebuah buku kumpulan cerpen anak karya Soekanto SA yang identik dengan Si Kuncung, majalah anak pada akhir tahun 1950-an sampai pertengahan tahun 1970-an.
Semula saya memilih buku ini hanya karena membaca judul “Kumpulan Cerpen Anak” pada bagian bawah cover buku (sekadar mereferensi). Tak kenal sebelumnya siapa Soekanto SA.
Namun, begitu membaca cerita pertama dan seterusnya, saya sangat kagum dengan gaya bahasanya. Begitu singkat, padat, ringan dan apa adanya tapi mengena.
Setelah membaca tiap kalimat penghabisan cerita, kepala saya geleng-geleng. Karyanya tidak hanya indah, tetapi juga bermanfaat dan punya kemampuan membersihkan jiwa. Padahal ceritanya sederhana tentang orangtua dengan anak, guru dengan murid, kakek/nenek dengan cucu, antar tetangga, tukang becak, penyapu jalanan, penjaga sekolah, dll. Alur cerita yang ditawarkan tidak hanya memuat keceriaan, tapi juga kesedihan, kepasrahan, haru, renungan, kepolosan, cinta kasih, kerinduan. (by sinta nisfuanna ; http://blogbukuindonesia.com )
Baiklah, saya contohkan saja 2 cerita yang sangat saya sukai.

IBU JAMBI
Cerita diawali dengan Ibu Jambi yang melapor pada suaminya yang baru pulang dari lembur.
“Terlalu anak-anak, susah disuruh. Disuruh mati barangkali ibunya…”
(masalah cerita ini tentang anak yang susah disuruh dan membantu ibunya. Disuruh mencuci piring malah lari main ke anak tetangga, disuruh mandi susah, magrib-magrib disuruh pulang juga susah)
Cerita bergulir dimana tokoh Pak Jambi mengumpulkan semua anaknya. Untuk bercerita tentang kasih ibu. Cerita tentang seorang ibu dengan seorang anak perempuannya yang masih bayi. Ayahnya telah meninggal. Pada suatu malam, ibu ini harus pergi ke pasar untuk membeli  beberapa pesanan langganan-langganannya. Karena tak dapat ditunda lagi, ia tinggalkan bayi dalam keadaan tertidur. Tapi sayang ia lupa memadamkan lampu minyak di kamar. Seekor kucing menyinggung lampu itu. kebakaranlah rumah itu. ibunya yang baru pulang berteriak dan memasuki lautan api menuju kamar anaknya. Ketika api akhirnya berhasil dipadamkan, terlihatlah ibu itu sedang memeluk anaknya. Tetapi keduanya telah mati.
“Nah, Mamat, Win, Ani, kau sudah besar,. Ketahuilah, ibumu sebesar itu juga cintanya kepadamu. Misalkan kau dalam bahaya, ibumu akan menembus api untuk menolongmu. Percaya, tidak? Nah, sekarang bagaimana sebaliknya, cintakah, sayangkah kamu sekalian kepada ibumu?”
Mamat, Win dan Ani berair matanya. Terharu mungkin oleh cerita ayahnya.
Hanya Mamat yang pandai menjawab, “Sayang, Pak…”
“Misalkan ibu dalam keadaan terbakar di rumah ini, Mamat datang dari sekolah, Mamat berani menolong ibu masuk api?”
“Berani…..Pak,” Mamat tersenyum.
Bu Jambi senang mendengar jawab anaknya dan menyahut, “Tak usah tunggu sampai ibu kebakaran baru ditolong, kalau ibu memanggilmu, cepatlah datang. Disuruh mandi cepat. Disuruh cuci piring tdak mogok, ya Ani?”
Win dan Ani memandang ibunya.
Tak sepatah pun keluar kata-katanya.

 AYAH DUDUK TERTIDUR
(cerita tentang seorang anak yang menyatakan tanda sayangnya kepada ayahnya)
Ketika aku hendak masuk ke kamar untuk tidur, kulihat ayah masih duduk tekun menghadapi meja. Kertas berserakan.
Ibu yang menidurkan bayi adikku terlanjur tertidur.
Dua orang adikku yang lain sudah pula kusuruh tidur setelah mencuci kaki masing-masing.
Lampu gantung itu masih kurang terang rupanya untuk mata ayah. Buktinya ia tadi menyuruhku membeli sebungkus lilin.
Ayah biasa membawa pekerjaan kantor seperti itu. Katanya untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
….
….
Kupandangi lampu tempel dalam kamar. Aku tidur bersama kedua adikku. Cahaya lampu itu rasanya makin mengecil dan tiba-tiba kecil sekali, dan…..aku tertidur.
Tetapi tiba-tiba lolong anjing tetanggaku membangunkanku.
Lama lolong-lolong itu.
Kubuka mataku dengan malas. Cahaya lampu tempel ternyata masih tetap seperti semula.
Terasa aku ingin ke belakang berhajat kecil
Aku turun dari tempat tidur.
….
….
Kutengok ke arah ruang depan. Biasanya gelap saja ruang depan, tetapi….
“Heeeehhh…masih menyala lampu!”
Aku bergegas ke kamar mandi. Kemudian aku ke ruang depan. Kudapati ayah tidur sambil duduk. Tangannya memegangi sarung yang dipakainya untuk berselimut. Udara malam itu memang dingin.
Ayah menunduk. Matanya tampak terpejam.
Dari cahaya dua lilin yang hampir habis dan lampu gantung tampaklah urat-urat air mukanya yang berjaluran.
Aduh ayahku, demikian keras kerjanya. Sehingga tidur pun hanya sejenak dua, sambil duduk lagi. Aku ingin memeluknya atau duduk di pangkuannya menyatakan tanda sayangku kepada ayah. Tetapi itu pasti akan mengejutkannya.
Aku bergegas ke dapur. Kunyalakan kompor. Kujerang air.
“Biar kubuatkan kopi…” pikirku.
Kubuka lemari makan. Kujumpai nasi-nasi kering. Kerak, namanya. Ayah suka sekali bila nasi itu digoreng.
Aku tak tahu sudah jam berapa malam itu.
 Sesudah siap nasi itu kugoreng dan membuat air kopi, menghidangkan semuanya di kursi di dekat ayah. Di meja, aku takut mengenai kertas-kertas pekerjaan ayah.
Ayah masih tertidur juga.
Kupegang pundaknya. Perlahan-lahan sekali kupijit-pijit.
Ayah terbangun dan memegang tanganku.
Terpandang olehnya kopi dan goreng kerak di dekatnya. Kopi yang mengepul.
Ia tersenyum kepadaku. Ditariknya tanganku. Dipangkunya aku dan diciuminya. Sudah sebesar ini aku!
Aku senang sekali malam itu.

     Judul: Orang-Orang Tercinta
Penulis: Soekanto SA
Penyunting: Maria Hartiningsih
Penerbit: Kompas
Cetak: Kedua, Mei 2006
Tebal: 160 hlm